dais | 23-03-2019
LDII sebagai salah satu lembaga keormasan keagamaan memiliki keinginan untuk mewujudkan warga jamaahnya menjadi profesional dan religius. Usaha pembinaan yang telah dilakukan dari anak usia cabe rawit (1- 6tahun) hingga usia lanjut usia. Salah satu ciri khas kegiatan yang selalu dilakukan dalam menyelesaikan banyak persoalan adalah bermusyawarah yang baik dan menyenangkan diantara sesama anggotanya. Contoh nyata adalah terlaksanaya musyawarah lima unsur di tingkat kelompok.
Musyawarah 5 unsur Kelompok Waena pada hari Jumat (22/03/2019) di Masjid al Manshurin dihadiri semua elemen mulai dari para pengurus, pengajar, orang tua, ahli pendidik dan tim konseling. Laporan pembinaan generus caberawit (G1) menyampaikan beberapah hal terkait pembinaan generus.
Point Pertama
Pengajian G1 selama ini berjalan baik namun kehadiran belum maksimal. Pemberian snack secara rutin berjalan lancar. Penilaian hasil belajar sudah tercatat baik tetapi belum maksimal masuk ke dalam web PPG. Evaluasi pembelajaran guru dari tim KBM (kegiatan belajar mengajar) belum tertib.
Point Kedua
Terdapat gangguan dari luar kompleks berupa lemparan ke arah atap aula lantai dua sehingga pengajian dirasa kurang nyaman. Musyawarah sesama guru, wali kelas dan koordinator pengajar sudah tertib dan lancar.
H.Sudarmo.S.Pd selaku pengurus kelompok Masjid Al Manshuurin menyampaikan bahwa selain kompetensi kognitif saat ini dalam pembelajaran harus ditekankan pembinaan karakter bagi generus. Pembiasaan dalam pembelajaran karakter yang baik, maksudnya sesuai tuntunan Qur'an Hadist dan norma norma sangat diperlukan bagi para generus untuk bekal dalam berkehidupan kelak di masyarakat, pungkasnya.
Saudara Yoga selaku pengajar mengusulkan tentang pemisahan jalan tangga antara jamaah putra dan putri pada saat mengikuti pengajian. Bagi santri yang sekolah siang agar mengikuti pengajian pada pagi hari. Selanjutnya kelompok dapat mengadakan iktiba atau ujian bagi generus ini atau digabungkan bersamaan pondok juga tidak apa apa. Usulan selanjutnya disampaikan bapak Purwanto selaku pengajar pondok menyebutkan bahwa materi ngaji malam bagi G1 khususnya tentang hafalan do’a – do’a bersama, sebaiknya diganti materi lain karena sering dilempar dari luar dan imbasnya ke arah atap rumah saya, jelasnya. Hal ini dapat terjadi karena merasa terganggu oleh suara yang ribut ribut.
Sedangkan menurut bapak Anwar selaku perwakilan pengurus menjelaskan bahwa awalnya membangun ruang di atas karena menjalankan amanah dari pusat untuk menjalankan materi yang ditentukan, selain itu perlu koreksi pembelajarannya, tidak perlu teriak teriak di atas ketika menghafalkan doa ini terbawa juga sampai di rumah. Selain itu sebenarnya mengaji di lantai atas rawan jatuh namanya anak anak. Wajar orang di luar merasa terganggu karena suara tersebut. Sehingga hal ini perlu ditindak lanjuti sehingga semuanya menjadi lancar.
Tambahan lagi bagi para santri tahfidz yang sudah hafal minimal satu juz agar sering diacarakan murojaa. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki kemampuan yang semakin bagus dan tetap terjaga hafalan hafalannya, tutupnya.
Dari laporan G3 mengusulkan adanya pertemuan para orang tua yang belum berjalan selama ini, dan sebaiknya ada pemetaan tempat ngaji yang jelas bagi generus 3 ini. Disampaikan juga oleh salah seorang peserta musyawarah bahwa perlu pendataan yang lengkap dulu santri yang hafal minimal satu juz sebelum diadakan iktiba, sehingga pengurus 4S nanti akan musyawarah lagi menentukan waktu dan tempatnya.
Kegiatan musyawarah 5 unsur ini diakhiri oleh Ustadz Ngatmanto, isi penutupan berupa ucapan rasa syukur kepada jamaah semua atas amal solihnya ketika bergotong royong dalam kegiatan sohibul hajatan mantu adiknya beberapa hari yang lalu dan ditutup dengan doa sebelum acara makan bakso bersama.