ASRAMA BAITUL TAHFIDZ GENERASI PENERUS 1 PAC LDII WAENA

waena | 06-04-2018



Dalam rangka mengisi waktu liburan sekolah yang hanya berlangsung kurang lebih 6 hari, PAC LDII Waena mengadakan asrama baitul tahfidz bagi para santri generasi penerus 1 yang berusia 7 tahun keatas, atau minimal kelas 1 SD, kegiatan asrama diselenggarakan pada hari Sabtu, 31 Maret 2018 - Minggu, 01 April 2018, yang bertempat di Aula Al-Manshurin Waena, kegiatan baitul tahfidz ini bertujuan untuk memotivasi para santri G1 untuk lebih meningkatkan semangat menghafalkan Al-Qur'an, selain itu guna mewujudkan 3 sukses generus yaitu alim fakih, berakhlak mulia, dan yang terakhir tentunya harus mandiri, dalam kegiatan ini juga terdapat pelajaran moral sebagai pembelajaran bagi para santri yang juga terkandung dalam 6 tobiat luhur antara lain mengenai kerukunan, kebersamaan, kekompakan, disiplin waktu, saling tolong menolong, menghormati satu sama lain, sabar, mujhid-muzhid, dan lain-lain.

Antusias para santri pun sangat luar biasa, dari mulainya pembukaan hingga penutupan santri G1 menunjukkan kesemangatan yang berdampak positif terhadap berlangsungnya kegiatan, para santri terlihat menikmati kegiatan bak sudah terbiasa dengan waktu dan suasana yang disiplin sebagaimana tata tertib dalam kegiatan ini, session demi session pun berjalan dengan baik. Tidak hanya itu, diselang kegiatan para santri dibekali video motivasi singkat tentang Tahfidzul Qur'an, bagaimana seorang Hafidz muda yang berada di Timur Tengah menghafalkan Al-Qur'an dengan kekurangannya, ia tidak dapat melihat, Subhanallah. Diceritakan bahwa pemuda tersebut menghafalkan Al-Qur'an sejak ia kecil yang dibimbing oleh ayahnya, ia mendatangi rumah gurunya yang amat sangat jauh untuk menimba ilmu diantarkan oleh sang ayah, diberikannya lah oleh sang guru hafalan satu ayat perharinya, kemudian sang pemuda menekuni itu, satu per satu ayat setiap harinya, hingga akhirnya ia meminta untuk melebihkan ayat, sang guru pun menolak, sang guru menyuruhnya untuk perlahan-lahan menghafalkan, sedikit demi sedikit namun pasti. Begitulah awal kisah pemuda itu menjadi Hafidz muda. Seseorang yang diberikan oleh Allah berupa kekurangan namun Allah tetap akan memberikannya kelebihan, pemuda itu tidak dapat melihat ayat demi ayat yangia baca, namun ia dapat merasakannya, hafalannya pun lebih mahir ketimbang orang biasa. Lantas bagaimanakah dengan kita? Bagaimana dengan kita yang berkemampuan normal, sudahkah kita bersemangat dalam menghafalkan Al-Qur'an?

Dapat disimpulkan bahwa dengan diadakannya asrama baitul tahfidz ini, kita bisa memetik hikmah yang luar biasa, bagaimana generasi penerus dipupuk sedikit demi sedikit sejak kecil untuk menjadi seorang Hafidz Qur'an yang berakhlakul karimah yang baik dan mandiri. Mudah-mudahan Allah paring manfaat dan barokah, Amin.

Kembali